AMANKAN DATA RAHASIA DI HP ANDA

Sebaiknya, jangan anggap sepele masalah pengamanan data digital yang ada di ponsel, PDA, atau komputer Anda. Kalau suatu saat jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, akibatnya bisa berabe. Rahasia paling pribadi sekalipun bisa tersebar sampai ke Kutub Utara.

Suatu sore, lima pria berumur 20-an tahun meriung di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Suasana meriah, khas anak muda berkumpul. Di tengah hangatnya secangkir kopi dan obrolan, pria yang berkacamata menyodorkan ponsel ke teman-temannya.

"Udah liat yang ini?"

Ponsel itu segera jadi rebutan. Dan dalam sekejap, setiap wajah larut dalam ekspresi masing-masing. Ada yang melirik kiri-kanan, tertawa keras, atau serius memperhatikan layar ponsel. Pasalnya, di layar ponsel tertayang video adegan dua anak manusia dewasa berlainan jenis sedang bercanda-ria. Hanya saja, keduanya tampil tanpa busana.

"Wah, boleh juga. Dikopi, ya," ujar pria berambut keriting jadi bersemangat. "Gue mau juga dong," yang lain tidak mau ketinggalan.

Pria berkacamata tersenyum, tidak keberatan. "Tapi, tukar sama gambar mahasiswa yang lagi begituan ya."

"Wah, ada lagi yang baru? Diam-diam punya koleksi juga nih!"

Sudut kafe gaduh oleh tawa kelima anak muda itu. Bluetooth masing-masing ponsel dinyalakan. Sejurus kemudian, file-file biru itu sudah menyebar.

Apa pun opini Anda, kejadian itu nyata terjadi di sekitar kita. Saking canggihnya teknologi, file-file digital begitu mudah berpindah tangan. Ponsel, personal digital assistant (PDA), atau komputer jinjing jadi medianya.

Jenis file barteran amat beragam. Dari file aplikasi yang sering diperlukan banyak orang, permainan games iseng, gambar lucu-lucuan, sampai yang masuk kategori pornografi.

Tentu tidak jadi masalah besar jika kita sekadar tahu soal file-file milik si kacamata tadi atau sesekali menontonnya. Kalau tidak suka, tinggal buang. Tapi, pasti lain urusannya kalau kebetulan Anda sendirilah yang menjadi "korban".

Awas, servis ponsel!

Menyimpan file digital pada media apa pun boleh dikata gampang-gampang susah. Disebut gampang, karena bentuknya yang sederhana dan memudahkan. Susahnya, kita harus benar-benar menjaganya. Apalagi kalau kebetulan sifatnya rahasia, seperti data pribadi, catatan rekening bank, password, nomor PIN, dsb.

Masalahnya, file yang vital buat seseorang, ternyata juga begitu gampang dibuat kopinya. Dalam standar kecanggihan teknologi mutakhir, dalam hitungan detik saja data bisa tersalin sampai satuan gigabyte. Atau kira-kira setara dengan satu rak buku di perpustakaan!

Kalau data pribadi sudah jatuh ke tangan orang lain, bakal sulit mengontrol pemanfaatan dan penyebarannya. Apalagi kalau sudah lewat internet. Sebuah file dalam keadaan utuh dalam waktu singkat bisa menyebar sampai ke ujung dunia, di Kutub Utara sana.

Hasil penelusuran Intisari ke dunia maya mendapati fakta bahwa file yang sifatnya pribadi tidak sulit didapat. Bentuknya berupa foto atau video. Entah, bagaimana ceritanya barang pribadi seperti itu bisa tersebar.

Tentu saja foto atau video yang diminati dan terus tersebar berputar-putar di internet adalah foto atau video syur alias berbau pornografi. Seperti foto seseorang tanpa busana (yang ini terbanyak), dua orang manusia yang bercumbu lalu mendokumentasikan diri, foto diri sendiri, foto terhadap bagian tubuh tertentu, dan jenis-jenis yang syerem seperti itu.

"Ah, itu 'kan gambar rekayasa komputer!" bantah seorang teman. "Banyak artis yang jadi korbannya. Dibuat seolah-olah telanjang, padahal cuma rekayasa."

Well, perekayasaan gambar pakai program pengolah gambar, seperti Adobe Photosop, memang marak beberapa tahun lalu. Bisa jadi ada yang begitu.

Tapi, foto yang masih asli alias tanpa perubahan sama sekali biasanya masih disertai data pembuatannya (metadata) yang rinci memuat jenis ponsel atau kamera pembuatnya, termasuk waktu pengambilan gambar. Apalagi jika kita ingin menelisik piksel demi piksel gambar dengan program pengolah gambar seperti Photoshop. Beberapa foto bisa dibuktikan keasliannya!

Keberadaan gambar-gambar biru di internet setidaknya membuktikan bahwa di sana ada penggemarnya. Mereka saling bertemu di situs atau mailing list. Bisa jadi karena didasari semangat berbagi yang tinggi, lalu terjadi pertukaran di antara mereka. Sesekali, komunitas jadi heboh manakala gambar yang didapat adalah orang terkenal seperti artis atau pejabat.

Sulit untuk mengetahui siapa yang membocorkan pertama kali ke internet sampai kemudian menyebar ke ratusan bahkan ribuan orang. Faktanya, gambar-gambar semacam ini bisa tersebar antarteman seperti geng yang nongkrong di kafe tadi. Atau bisa juga, dengan perantaraan pihak lain, misalnya ditengarai di pusat-pusat penjualan dan tempat perbaikan ponsel.

Penyebaran di bawah tangan lewat gerai ponsel dibenarkan sumber Intisari, sebut saja namanya Gunadi. Menurut dia, di toko-toko perlengkapan ponsel, file berbentuk video menjadi bonus pembelian kartu memori ponsel kualitas rendahan. "Biar kartu memorinya laku," jelas pria yang akrab dengan lingkungan pusat perdagangan ponsel Roxy Mas di Jakarta Barat ini.

Tapi yang wajib diwaspadai, lanjut Gunadi, gerai-gerai ponsel juga bisa jadi tempat pencurian data-data pribadi. Modusnya, mencuri di saat orang menyerahkan ponselnya untuk di-upgrade, diisi program, atau diperbaiki. Kalau kebetulan pegawai tempat servis ponselnya nakal dan tahu ada data pribadi yang sik-asyik di dalam memori, bakal langsung disalin. File bisa dikoleksi sendiri atau dijual kembali.

Karena itu, supaya data tidak dicuri, proses kerja si petugas harus kita pantau terus. "Kadang-kadang, sudah ditunggu pu, belum tentu orang sadar kalau datanya lagi dikopi," papar Gunadi. "Apalagi kalau ponsel sampai ditinggal seharian, wah bakal bablas deh ...." Tapi, semua itu dengan catatan: kalau di dalam ponsel ada data rahasianya lo!

Terakhir, tersebarnya file juga bisa karena kelalaian si pemilik sendiri. Misalnya, Anda menjual ponsel atau kartu memori, tapi Anda lupa menghapus bersih data-data pribadi Anda. Atau bisa juga karena ponsel Anda hilang.

Kalau kejadiannya benar seperti itu, ya wassalam sajalah. Tinggal berdoa, supaya kelalaian itu tidak jadi masalah di kemudian hari. Habis, bisa apa lagi?

Hapus bersih dulu!

Pabrik-pabrik ponsel menyarankan, sebelum menjual media penyimpanan seperti kartu memori, sebaiknya dilakukan format ulang terlebih dulu.

Ini berlaku juga pada media penyimpanan lain seperti hard disk komputer atau USB flash drive yang sering kita sebut flash disk itu.

Caranya gampang karena fasilitas format tersedia di setiap ponsel, PDA, atau sistem operasi komputer pribadi. "Tinggal masuk ke menu format saja. Setelah selesai, data terhapus semua," terang Usun Pringgodigdo, Manajer Pengembangan Bisnis Nokia Mobile Phone Indonesia.

Apa benar dijamin benar-benar bersih? Usun mengiyakan.

"Untuk memori HP, data yang terhapus tidak bisa dikembalikan. Ada software yang bisa mengembalikan, tapi (harus) dipasang sebelum data dihapus."

Anjuran Usun paling tidak patut diperhatikan. Kesadaran bersih-bersih kartu memori sebelum berpindah tangan, paling tidak perlu dilakukan. Walau tidak ada jaminan seratus persen aman. Lah?!

Adalah ahli seperti Sutiono alias Aping, yang bisa mengembalikan data dari kartu memori, walau sudah diformat. Sehari-hari, pria berusia 28 tahun yang tinggal di kawasan Teluk Gong, Jakarta Barat, ini pekerjaannya memunculkan kembali data yang hilang karena terhapus, terformat, atau dari hard disk rusak. Bisnis yang digelutinya biasa disebut recovery data.

Kalau cuma bikin balik data dari kartu memori yang diformat atau terhapus, ibarat menjentikkan jari saja. Gampang! "Banyak software program yang dijual, bisa balikin data," jelas Aping.

Teorinya, sewaktu data dihapus, sebenarnya dia masih meninggalkan jejak di bekas ruang penyimpanannya. Jejak-jejak kode komputer berbentuk kode heksa itu masih bisa dibaca lewat sebuah perangkat lunak. Asal tahu kode mana yang merujuk pada data yang kita inginkan, dari situ data yang terhapus bisa dikembalikan.

Data yang bisa dikembalikan tidak berbatas usia, jenis, maupun besarnya. Asal masih menempati sektor asalnya dan belum ditimpa data baru, bisa kembali utuh.

Kesulitannya cuma kalau data ternyata terfragmentasi, atau disimpan dalam sektor yang terpisah-pisah, seperti di hard disk komputer. "Kalau di memory card, biasanya tidak terfragmentasi. Lebih gampang," jelas pria yang belajar sendiri soal forensik data, karena memang belum ada sekolahannya ini.

Dari dasar teori tadi, data bisa juga dihapus permanen. Ada perangkat lunak yang dijual yang fungsinya mengubah seluruh kode heksa menjadi nol. Kalau semua nol, istilahnya zero fill, mau diulik sedemikian rupa, datanya tak mau balik.

Ada pula cara sederhana, tapi repot. Tempat penyimpanan data ditimpa dengan data baru sampai benar-benar penuh.

Misalnya, pada kartu memori di ponsel, isilah dengan file gambar, lagu, atau apa saja sampai benar-benar penuh. Lalu setelah itu hapuslah semuanya. Alhasil, ketika di-recovery, yang muncul adalah data baru yang tidak ada artinya.

Sedikit repot memang, tapi aman. Juga biar tidak jadi bahan tontonan dan gunjingan.

Sumber : T. Tjahjo Widyasmoro

0 comments: